Untuk : Ibu
Ibu, pernahkah engkau berpikir bahwa aku ini seperti tokoh-tokoh antagonis dalam
sinetron televisi yang durhaka pada orangtuanya?
Aku tau engkau tau mengapa aku menanyakan ini.
Iya, aku anakmu lupa pada hari terbaik dalam hidupmu - ulang tahunmu.
Maka maafkan aku,bu. Barangkali jutaan maaf tak cukup mampu gambarkan rasa bersalah ini padamu.
Berkali-kali maaf kulontarkan dari bibirku, tak henti-henti air mata kuloloskan dari pelupuk mataku.
Tapi rasa bersalah masih terus ada dan bersarang di hatiku.
Aku tau engkau kecewa, tapi pintu maaf selalu kau bukakan dengan ikhlas untukku.
Tahu kah,bu? Ke-tidak apa apa-anmu itu malah membuatku makin mengutuki diriku
Ibu, aku bertanya-tanya apakah yang menyusun hatimu itu.
Mungkin hanya tumpukan kasih sayang, jutaan doa dan rasa ikhlas yang tanpa batas.
Karena aku sama sekali tidak temukan ke egoisan disana.
Ah, ibu masih ingat waktu kecil jika ada yang bertanya apa cita-citaku, maka aku akan menjawab
"aku akan menjadi dokter".
Tapi tidak jika ditanyakan sekarang, karena aku akan menjawab "aku akan menjadi seorang Ibu seperti Ibuku"
Selamat ulang tahun Ibuku, Anna Agustiana-
Terbangkan doa-doamu dan akan kupastikan Tuhan mengabulkannya melalui hidupku.
Sama seperti ayah, aku belum bisa memberimu kado karena bagiku hadiah terindah di bumi tetap adalah kalian.
--- Jika suatu saat aku lupa padamu-pada kita, tampar aku dan ingatkan aku.
Karena lupa padamu adalah sebuah dosa besar yang amat sangat kusesali ---
Anakmu yang senantiasa mencintaimu,
Andra.
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Agustus 2012
Selasa, 24 Juli 2012
Harapanku Tetap Jadi Harapan Ibu : Surat kedua
Ibu, apa kabar?
Semoga kabarmu sebaik aku disini.
Ini surat kedua yang kutulis yang mungkin tidak akan sampai padamu. Aku memang sengaja menyimpannya dan masih mencari waktu terbaik untuk mu membacanya.
Ya, anggap ini sebuah dalih karena yang sebenarnya aku masih belum cukup berani mengutarakan surat ini, entah karena gengsi, malu atau bahkan takut.
Aku tidak sanggup bayangkan bagaimana reaksimu membaca semua suratku yang tak tersampaikan padamu bu.
Padahal aku tau, kau tidak akan murka ataupun menertawakan apa yang aku tulis.
Ibu, aku memang tidak pandai berkata-kata manis sekedar melegakan hatimu.
Aku memang masih belum cukup hebat dalam hal membahagiakanmu.
Dan aku memang tidak selalu bersikap baik saat menghabiskan waktu bersamamu.
Tapi aku akan selalu berusaha tersenyum bahagia di hadapmu, walau tak jarang tangis terselip dibaliknya tersunggingnya bibir ini.
Jangan khawatir bu, aku akan bahagia selama Ibu juga berbahagia, Memang terdengar sedikit klise, tapi percaya lah bu. Bahagiaku ada karena tumbuh diatas bahagiamu dan bahagiamu adalah tujuan akhir dari semua perjuanganku.Maka dari itu, tetaplah sehat dan tetaplah ada di jangkauan mataku sampai aku berhasil membahagiakanmu. Satu hal lagi bu, aku selalu menyisipkan pesan ini dalam suratku, tetaplah jadi tulang rusuk ayah hingga kejamnya maut merenggut.
Terima kasih, aku merindukanmu.
"Hingga detik ini yang aku harapkan hanya agar kau selalu mengharapkanku menjadi harapanmu."
Anakmu yang sedang berjuang untukmu,
Andra
(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)
Rabu, 30 Mei 2012
Sepucuk Surat Rindu Untuk Ayah : Surat Pertama
Ayah,
Bagaimana kabarmu yah? Aku harap kau selalu baik.
Sudah lama kita tidak bertemu, tapi kita urung jua untuk bertukar kabar.
Maafkan aku yah, untuk kelancanganku.
Terlepas dari semua ketegangan kita,
Sebenarnya aku rindu tapi aku malu.
Kerinduanku ini bertumpuk karena tak segera ku sampaikan padamu.
Kau tahu? Ternyata menyimpan rindu itu tidak semudah membalik halaman buku.
Ayah, kita memang tidak dekat dalam jarak maupun hubungan.
Kita memang tidak seharmonis "ayah-anak" pada umumnya.
Kita memang tidak memiliki kenangan semanis kenangan ku bersama Ibu.
Tetapi kenangan tetaplah kenangan,
Akan ada masa dimana aku rindu kenangan itu.
Seperti kemarin, hari ini dan bahkan detik ini.
Aku rindukan sorot matamu yang tajam.
Aku rindu bibirmu yang membentuk garis lurus tanpa makna.
Aku rindu topeng dingin yang selalu kau kenakan.
Ayah, aku yakin dibalik topeng dingin yang kau kenakan itu,
Ada sepasang mata yang memandang dengan sendu.
Ada seutas senyum ikhlas yang tak akan putus bahkan oleh tajamnya luka.
Rinduku padamu mungkin tak sebanding dengan rinduku pada Ibu,
Tapi kekagumanku padamu bisa jadi tak tertanding.
Untuk yang terakhir kalinya,
Maafkan aku Ayah, aku merindukanmu.
Anakmu yang selalu membanggakanmu,
Andra.
"Ayah keharmonisan kita memang tak mulus, tapi doa tulusku padamu tak akan pernah putus"
(Andra Sheilamona / Solo, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)