Yang aku takutkan, adalah bahkan di mimpiku aku tetap tak bisa memelukmu...
Aku menerka-nerka apa alasan dari gelak tawamu
yang kucuri dengar dari balik punggung seorang anak pembatas aku dan kamu..
Ah, seandainya bisa, aku lebih memilih sama sekali tak mengenalmu
dari pada mengenal namun tak memilikimu
Sebut aku ini egois,
Karena jika menyangkut kamu, semua logikaku ini lolos dari akalnya
Aku dan kamu..
Menatap senja itu yang seharusnya ada kita,
Bukan aku yang tenggelam atau kamu yang datang
Itu semua karena kita tak sepadan..
Hatimu dan jiwa yang ada didalamnya
Adalah peradaban yang sulit untuk dipahami bangunannya,
Sekalipun itu oleh aku..
Aku ingin jadi alasan,
Dibalik merekahnya senyum dari bibirmu
Menyeruaknya gelak tawamu dari pita suaramu
Atau bahkan mengalirnya tangis dari kedua matamu
Sampai kapan kamu akan menutup mata dan telinga
Menampik sebuah kenyataan bahwa kamu kucinta.
Sehebat apapun engkau bertahan dalam kepura-puraan
Tak akan sekalipun mematahkan niatku.
Padahal untuk mencintaimu, itu adalah hal yang mudah.
tapi untuk menjadi apa yang pantas kamu cintai, itulah hal yang sedang kuperjuangkan
(Andra Sheilamona / Solo, Desember 2012)
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Desember 2012
Jumat, 23 November 2012
Jika Sampai Waktuku
Engkau tak perlu menanyakan kabar,
karena akan kupastikan bahwa cinta baik saja.
Ia masih kerap memperhatikanmu
sesekali melantunkan namamu,
Ia juga menyediakan lahan kosong untuk dirimu tempati.
Jangan..
Jangan bersembunyi,
karena waktuku ini tak banyak,
mungkin sudah terlalu lama kuhabiskan untuk berdiam diri.
Aku manusia biasa,
yang enggan kehilangan sebelum sempat memiliki, wajar.
Setidaknya dengan ini ada sedikit kebahagiaan
yang bisa kusimpan dan kujadikan bekalku kelak.
Maka,
sebelum nafas ini putus dan hilang hembusnya,
sebelum jiwa ini terbang dan bercerai dengan raganya..
Aku akan syukuri detik demi detik waktu untuk melihatmu dari kejauhan
Aku akan habiskan detik demi detik waktu untuk mendoakanmu lebih lama
Karena jika sampai waktuku, aku ingin kau tahu
bahwa aku pernah mencintaimu dalam keterbatasan waktu
(Andra Sheilamona / Solo, November 2012)
Kamis, 20 September 2012
Aku Berikrar Pada Harapan
--- Padamu kutanamkan harapan, yang nantinya bukan untuk kau jadikan tangisan..
Untuk kesekian kali aku berharap
pada hati yang telah kuikat dengan ribuan rasa
aku tahu dulu rasa ini muncul bertahap
menampik benci hingga sama sekali tak bersisa
tapi entah sejak kapan rasa ini menjadi kebal
seberapa kuat aku menyangkal
mereka tetap saja bebal
aku menerka-nerka apa yang kau perbuat
hingga rasa dihatiku ini makin melekat
dan akar harapan padamu makin menguat
aku tahu, aku hanya orang asing bagimu
yang seenaknya merangkai angan-angan indah tentangmu
tapi tidak bolehkah aku sedikit mendamba bahagia?
bahagia yang tidak akan kudapati di dunia nyata
kau tahu apa yang membuatku tetap bertahan?
karena aku telah berikrar untuk berpegang teguh pada harapan
harapan yang jauh hari aku tanam di ladang hatimu
aku masih menunggu..
menunggu tumbuhnya benih dari harap yang kupendam
akankah mereka menjadi bahagia yang kelak kugenggam
ataukah menjadi rasa yang hanya bisa bungkam?
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Kamis, 06 September 2012
Aku Terlambat Menyadari
--- Aku tidak menyesali kata pernah, aku menyesal belum sempat berkata pernah...
Semestinya, kita sempat untuk berbahagia
Terlepas dari ketidak tahuanmu, kita adalah bagian dari setitik harap
Yang tak sempat tumbuh dan mati sebelum disirami
Dari dalam diriku ini,
ada satu rasa yang terlambat menempatkan diri
Sehingga aku tak jua menyadari bahwa rasaku ini adalah apa yang selama ini kau cari
Lihatlah....Sekarang mereka menjelma menjadi benci
Benci, karena kau pergi sebelum aku menyadari...
Rasanya seperti kehilangan mainan yang dirampas paksa
sebelum aku selesai memainkannya
Seperti menulis sajak-sajak pada sesobek kertas
lalu terbakar hangus dimamah oleh jaman
Maka sebelum menghapus aku dalam ingatan,
Sebelum aku semakin memudar dan kita tak lagi aku dan kamu
Maka sebelum itu, berbaliklah...
Tengoklah kesini, pahami gerak bibirku dan dengar apa yang kubisikan
"....Aku pernah mencintaimu kemarin, begitupula hari ini dan esok hari...."
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Senin, 27 Agustus 2012
Aku Hanya Bisa Diam
—Aku memang hanya diam. Tapi ketahuilah, diamku bukan berarti aku baik-baik saja…
Aku hanya bisa diam,
Bersembunyi dibalik malam.
Saat matahari mulai tenggelam
dan dinginnya malam seolah menikam
Aku hanya bisa diam
ketika rindu mulai menggerogotiku
dan sepi mengkoyak pertahananku
Aku hanya bisa diam
ketika tau ada kebohongan diantara cinta kita
dan engkau adalah pengkhianatnya.
Aku hanya bisa diam
ketika mereka menghujatku
meneriakiku sebagai pecundang
karena terlanjur menyerahkan diri padamu
Aku hanya bisa diam
ketika engkau lebih memilih pergi
dan menyisakan luka yg tak dapat kuobati sendiri
Aku hanya bisa diam
ketika sadar betapa bodohnya aku
yang terus memilih diam ketika engkau sakiti
(Andra Sheilamona / Solo, Agustus 2012)
Aku hanya bisa diam,
Bersembunyi dibalik malam.
Saat matahari mulai tenggelam
dan dinginnya malam seolah menikam
Aku hanya bisa diam
ketika rindu mulai menggerogotiku
dan sepi mengkoyak pertahananku
Aku hanya bisa diam
ketika tau ada kebohongan diantara cinta kita
dan engkau adalah pengkhianatnya.
Aku hanya bisa diam
ketika mereka menghujatku
meneriakiku sebagai pecundang
karena terlanjur menyerahkan diri padamu
Aku hanya bisa diam
ketika engkau lebih memilih pergi
dan menyisakan luka yg tak dapat kuobati sendiri
Aku hanya bisa diam
ketika sadar betapa bodohnya aku
yang terus memilih diam ketika engkau sakiti
(Andra Sheilamona / Solo, Agustus 2012)
Senin, 23 Juli 2012
Sedingin Neraka
"Cinta tetap akan terlihat bodoh jika si lakon tak mampu menindaklanjutinya dengan benar, Sekalipun ia seorang jenius"
Aku ini memang orang yang pandai,
Tapi aku tahu kalau engkau tahu bahwa aku tidak pandai dalam berpura-pura.
Berpura-pura tidak mencintai lagi semisal.
Bila aku punya 4 tangan, akan kuacungkan ke-4 ibu jariku untukmu.
Itu bentuk penilaianku untuk kepura-puraanmu.
Engkau tahu, biasanya aku akan tetap memaksa untuk lebih tahu,
tapi kali ini aku akan diam dan meminta apa yang kau tahu.
Bisa engkau sejenak mengajariku? Berpura-pura sepertimu yang berhasil
berpura-pura tidak mencintaiku.
Bisa engkau sejenak mengajariku? Memalingkan wajah angkuh tiap kita beradu pandang.
Bisa engkau sejenak mengajariku? Bersikap dingin setiap kita bertegur sapa.
Ah, bagaimana bisa engkau begitu dingin?
Dingin, dingin sekali...
Sedingin neraka yang bahkan tak mampu kekecap dengan bertelanjang sekalipun.
Dingin yang mau merontokan tiap jangka tulangku, menggertakan gigi-gigiku,
dan meremangkan bulu romaku.
Dingin yang malah membuatku rindu, rindu akan dekapan hangatmu.
Apakah aku harus terus berjuang dalam kepura-puraan,
yang perlahan akan mengubahku menjadi penipu ulung.
Atau aku harus menjadi seorang sok tahu agar nantinya engkau bisa bangga padaku?
(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)
(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)
Rabu, 11 Juli 2012
Aku Mati Terkoyak Sepi
Senyuman memilukan
Tatapan kosong tak terarahkan
Tawa hambar menyuarakan
Tiada henti tersajikan
Seakan lelah dengan kepura-puraan
Sejenak kubuka topeng ini
Dan mulai berkaca..
Sejak kapan kumiliki wajah penuh derita ini?
Aku bertanya kenapa,
Ah tahuku semua jawabnya
Aku telah mati terkoyak sepi rupanya..
Menanggalkan semua tekatku yang dulu
Memilih sepi sebagai selimut paling abadi
Dengan dalih agar rindu terobati
Tanpa sadari kemunafikan menelanku perlahan
Hinggaku tenggelam, terlalu dalam
Ah, aku lelah dengan sepi
Kudapati kesia-siaan di semua usaha ini
Ya, karena memang aku benci untuk sendiri..
(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)
Tatapan kosong tak terarahkan
Tawa hambar menyuarakan
Tiada henti tersajikan
Seakan lelah dengan kepura-puraan
Sejenak kubuka topeng ini
Dan mulai berkaca..
Sejak kapan kumiliki wajah penuh derita ini?
Aku bertanya kenapa,
Ah tahuku semua jawabnya
Aku telah mati terkoyak sepi rupanya..
Menanggalkan semua tekatku yang dulu
Memilih sepi sebagai selimut paling abadi
Dengan dalih agar rindu terobati
Tanpa sadari kemunafikan menelanku perlahan
Hinggaku tenggelam, terlalu dalam
Ah, aku lelah dengan sepi
Kudapati kesia-siaan di semua usaha ini
Ya, karena memang aku benci untuk sendiri..
(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)
Sabtu, 02 Juni 2012
Temanku - Kahlil Gibran. (For you guys XI IPA 4)
Temanku, aku tidak seperti yang terlihat
Yang terlihat adalah pakaian yang kukenakan
Pakaian dengan tenunan indah yang melindungiku
dari pertanyaan-pertanyaanmu
dan kamu dari pengabaianku
‘Aku’ dalam diriku, temanku, tinggal dalam rumah
kesunyian, dan di dalamnya tidak dapat didekati
Yang terlihat adalah pakaian yang kukenakan
Pakaian dengan tenunan indah yang melindungiku
dari pertanyaan-pertanyaanmu
dan kamu dari pengabaianku
‘Aku’ dalam diriku, temanku, tinggal dalam rumah
kesunyian, dan di dalamnya tidak dapat didekati
Aku tidak akan memintamu percaya pada
kata-kataku atau apa yang kulakukan
Karena kata-kataku adalah pikiranmu sendiri dalam
kata-kata dan perbuatanku adalah
harapanmu yang terwujud
kata-kataku atau apa yang kulakukan
Karena kata-kataku adalah pikiranmu sendiri dalam
kata-kata dan perbuatanku adalah
harapanmu yang terwujud
Ketika kau berkata, “Angin berhembus ke timur,”
Aku berkata, “Ya, angin bertiup ke timur,”
Karena aku tidak akan memintamu bahwa
pikiranku tidak berada dalam angin
melainkan di lautan
Aku berkata, “Ya, angin bertiup ke timur,”
Karena aku tidak akan memintamu bahwa
pikiranku tidak berada dalam angin
melainkan di lautan
Kau tidak dapat mengerti pikiran lautku
Aku juga tidak akan memintamu untuk mengerti
Aku akan berada di laut sendirian
Aku juga tidak akan memintamu untuk mengerti
Aku akan berada di laut sendirian
Ketika siang bersamamu, kawan, bagiku itu malam
Bahkan ketika aku berbicara tentang
pasang yang menari di atas bukit dan
bayangan ungu yang mencuri jalannya
menyeberang lembah
Karena kau tidak dapat mendengar
nyanyian dari kegelapanku atau
melihat sayap-sayapku mengepak menentang bintang
Dan aku tidak akan memintamu
untuk mendengar atau melihat
Aku akan berada dalam malam sendrian
Bahkan ketika aku berbicara tentang
pasang yang menari di atas bukit dan
bayangan ungu yang mencuri jalannya
menyeberang lembah
Karena kau tidak dapat mendengar
nyanyian dari kegelapanku atau
melihat sayap-sayapku mengepak menentang bintang
Dan aku tidak akan memintamu
untuk mendengar atau melihat
Aku akan berada dalam malam sendrian
Ketika kau naik menuju Surgamu
Aku turun ke Nerakaku
Bahkan ketika kau memanggilku
melalui teluk tak berjembatan
“Temanku, kawanku”
Dan aku memanggilmu kembali
“Kawanku, temanku”
Karena aku tidak akan memintamu
untuk melihat Nerakaku
Aku turun ke Nerakaku
Bahkan ketika kau memanggilku
melalui teluk tak berjembatan
“Temanku, kawanku”
Dan aku memanggilmu kembali
“Kawanku, temanku”
Karena aku tidak akan memintamu
untuk melihat Nerakaku
Apinya akan membakar penglihatanmu
Medan asapnya akan merambat ke lubang hidungmu
Dan aku terlalu mencintai Nerakaku
untuk membiarkanmu mengunjunginya
Aku akan berada di nerakaku sendirian
Medan asapnya akan merambat ke lubang hidungmu
Dan aku terlalu mencintai Nerakaku
untuk membiarkanmu mengunjunginya
Aku akan berada di nerakaku sendirian
Kau mencintai Kebenaran dan Keindahan dan Ketepatan
Dan aku demi kau berkata bahwa
itu baik untuk mencintai hal-hal itu
Tetapi dalam hatiku aku menertawakan cintamu
Tetapi aku tidak akan memintamu
untuk melihat tawaku
Aku akan tertawa sendirian
Dan aku demi kau berkata bahwa
itu baik untuk mencintai hal-hal itu
Tetapi dalam hatiku aku menertawakan cintamu
Tetapi aku tidak akan memintamu
untuk melihat tawaku
Aku akan tertawa sendirian
Temanku, kau bukan temanku
Tetapi bagaimana aku membuatmu mengerti?
Jalanku bukan jalanmu
Namun kita berjalan bersama
Bergandengan tangan
”
Tetapi bagaimana aku membuatmu mengerti?
Jalanku bukan jalanmu
Namun kita berjalan bersama
Bergandengan tangan
Langganan:
Postingan (Atom)