Minggu, 30 Desember 2012
Tak Lagi 'Aku dan Kamu'
Siapa yang benar-benar bisa memperkirakan kebahagiaan seseorang?
Semisal itu aku, akan kupastikan kitalah satu yang kubiarkan tetap utuh.
Tapi siapa pula yang benar-benar bisa memperkiraan datangnya perpisahan?
Yang kuharap itu bukan aku,
malah berbalik menyerangku dengan kehilangan.
Sayang, ia berhasil mengendus keberadaanku,
dan siap mencerai-berai kenangan kita.
Kehilangan memisahkan kita yang pernah merasa tak berbeda,
dan mempersatukan aku pada air mata yang seringkali jatuh tanpa sebab.
Sekarang, setelah sekian banyak pertanyaan kulontarkan
tak ada satupun penjelasan atau sekedar jawaban yang kau cecar dari bibirmu.
Sehingga aku kehilangan rasa untuk mencari dan terus mencari.
Kepastian menjadi bungkam,
harapanku pun ikut memudar
ketiadaanmu menjadi ngengah hampa
Aku menyerah....
Aku lelah memperjuangkan kita yang tak lagi 'Aku dan Kamu'
(Andra Sheilamona / Solo, Desember 2012)
Kamis, 27 Desember 2012
Tak Sepadan
Yang aku takutkan, adalah bahkan di mimpiku aku tetap tak bisa memelukmu...
Aku menerka-nerka apa alasan dari gelak tawamu
yang kucuri dengar dari balik punggung seorang anak pembatas aku dan kamu..
Ah, seandainya bisa, aku lebih memilih sama sekali tak mengenalmu
dari pada mengenal namun tak memilikimu
Sebut aku ini egois,
Karena jika menyangkut kamu, semua logikaku ini lolos dari akalnya
Aku dan kamu..
Menatap senja itu yang seharusnya ada kita,
Bukan aku yang tenggelam atau kamu yang datang
Itu semua karena kita tak sepadan..
Hatimu dan jiwa yang ada didalamnya
Adalah peradaban yang sulit untuk dipahami bangunannya,
Sekalipun itu oleh aku..
Aku ingin jadi alasan,
Dibalik merekahnya senyum dari bibirmu
Menyeruaknya gelak tawamu dari pita suaramu
Atau bahkan mengalirnya tangis dari kedua matamu
Sampai kapan kamu akan menutup mata dan telinga
Menampik sebuah kenyataan bahwa kamu kucinta.
Sehebat apapun engkau bertahan dalam kepura-puraan
Tak akan sekalipun mematahkan niatku.
Padahal untuk mencintaimu, itu adalah hal yang mudah.
tapi untuk menjadi apa yang pantas kamu cintai, itulah hal yang sedang kuperjuangkan
(Andra Sheilamona / Solo, Desember 2012)
Aku menerka-nerka apa alasan dari gelak tawamu
yang kucuri dengar dari balik punggung seorang anak pembatas aku dan kamu..
Ah, seandainya bisa, aku lebih memilih sama sekali tak mengenalmu
dari pada mengenal namun tak memilikimu
Sebut aku ini egois,
Karena jika menyangkut kamu, semua logikaku ini lolos dari akalnya
Aku dan kamu..
Menatap senja itu yang seharusnya ada kita,
Bukan aku yang tenggelam atau kamu yang datang
Itu semua karena kita tak sepadan..
Hatimu dan jiwa yang ada didalamnya
Adalah peradaban yang sulit untuk dipahami bangunannya,
Sekalipun itu oleh aku..
Aku ingin jadi alasan,
Dibalik merekahnya senyum dari bibirmu
Menyeruaknya gelak tawamu dari pita suaramu
Atau bahkan mengalirnya tangis dari kedua matamu
Sampai kapan kamu akan menutup mata dan telinga
Menampik sebuah kenyataan bahwa kamu kucinta.
Sehebat apapun engkau bertahan dalam kepura-puraan
Tak akan sekalipun mematahkan niatku.
Padahal untuk mencintaimu, itu adalah hal yang mudah.
tapi untuk menjadi apa yang pantas kamu cintai, itulah hal yang sedang kuperjuangkan
(Andra Sheilamona / Solo, Desember 2012)
Jumat, 23 November 2012
Jika Sampai Waktuku
Engkau tak perlu menanyakan kabar,
karena akan kupastikan bahwa cinta baik saja.
Ia masih kerap memperhatikanmu
sesekali melantunkan namamu,
Ia juga menyediakan lahan kosong untuk dirimu tempati.
Jangan..
Jangan bersembunyi,
karena waktuku ini tak banyak,
mungkin sudah terlalu lama kuhabiskan untuk berdiam diri.
Aku manusia biasa,
yang enggan kehilangan sebelum sempat memiliki, wajar.
Setidaknya dengan ini ada sedikit kebahagiaan
yang bisa kusimpan dan kujadikan bekalku kelak.
Maka,
sebelum nafas ini putus dan hilang hembusnya,
sebelum jiwa ini terbang dan bercerai dengan raganya..
Aku akan syukuri detik demi detik waktu untuk melihatmu dari kejauhan
Aku akan habiskan detik demi detik waktu untuk mendoakanmu lebih lama
Karena jika sampai waktuku, aku ingin kau tahu
bahwa aku pernah mencintaimu dalam keterbatasan waktu
(Andra Sheilamona / Solo, November 2012)
Senin, 15 Oktober 2012
Hujan
Awan menggelayut di ufuk yg biasanya berwarna biru..
kian lama berjelaga menjingga.
Jangan mendung,
Jangan tenggelam dulu, matahari..
disini sedikit lagi, sebelum hujan datang bercerita
Hujan...
melalui tetes demi tetes air yang awan jatuhkan satu-satu dari tubuhnya
Dia pun mulai bercerita,
mengenai caranya turun untuk menenangkan bumi yg panas,
menumbuhkan segala yg mati dan memberi rasa nyaman dihati.
Rintik-rintik yang jatuh menghantam daratan, lalu hilang entah kemana
Hujan, dia adalah iringan hembus nafas alam nan sempurna
walau basah dan petir menyambar tapi percayalah..itu semua indah
(Andra Sheilamona / Solo, Oktober 2012)
kian lama berjelaga menjingga.
Jangan mendung,
Jangan tenggelam dulu, matahari..
disini sedikit lagi, sebelum hujan datang bercerita
Hujan...
melalui tetes demi tetes air yang awan jatuhkan satu-satu dari tubuhnya
Dia pun mulai bercerita,
mengenai caranya turun untuk menenangkan bumi yg panas,
menumbuhkan segala yg mati dan memberi rasa nyaman dihati.
Rintik-rintik yang jatuh menghantam daratan, lalu hilang entah kemana
Hujan, dia adalah iringan hembus nafas alam nan sempurna
walau basah dan petir menyambar tapi percayalah..itu semua indah
(Andra Sheilamona / Solo, Oktober 2012)
Minggu, 30 September 2012
Sudahi Sampai Disini
Syarat mencintai diam-diam, resiko mencintai tanpa dicintai.
Apakah engkau tak lelah
memerdekakan kepura-puraan yang tak lelah ku telaah.
Demi setumpuk harga diri
yang tak mungkin kau bawa mati.
"Sejatinya cinta adalah bermakna ganda yaitu mencintai dan dicintai
melebihkan apa yang kekurangan dan mengurangi apa yang kelebihan."
Bukan yang seperti ini,
yang kuikrarkan selama ini.
Aku yang semakin cinta
dan engkau yang semakin abai.
Engku adalah udara,
kubutuhkan dalam hidup
tapi enggan untuk kuhirup.
Engkau adalah sepotong sajak
yang kurangkai seorang diri
menggambarkan segala apa yang terlewat sepi.
Padahal aku ingin lebih sekedar ingin,
Tapi tatapanmu melucuti semua harapanku
Seolah berkata "Sudahi sampai ini.."
Apakah ini resiko dari mencintai tapi tanpa dicintai?
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Apakah engkau tak lelah
memerdekakan kepura-puraan yang tak lelah ku telaah.
Demi setumpuk harga diri
yang tak mungkin kau bawa mati.
"Sejatinya cinta adalah bermakna ganda yaitu mencintai dan dicintai
melebihkan apa yang kekurangan dan mengurangi apa yang kelebihan."
Bukan yang seperti ini,
yang kuikrarkan selama ini.
Aku yang semakin cinta
dan engkau yang semakin abai.
Engku adalah udara,
kubutuhkan dalam hidup
tapi enggan untuk kuhirup.
Engkau adalah sepotong sajak
yang kurangkai seorang diri
menggambarkan segala apa yang terlewat sepi.
Padahal aku ingin lebih sekedar ingin,
Tapi tatapanmu melucuti semua harapanku
Seolah berkata "Sudahi sampai ini.."
Apakah ini resiko dari mencintai tapi tanpa dicintai?
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Para Pengiba Doa Tuhan
Kala malam,
para pengiba mulai mengadahkan tangan
dalam sujud maupun berlutut,
lantunan doa mulai terdengar
dari bibir yang membiru
dan kecapan lidah yang kelu
Berterbanganlah takdir yang mentah itu
seolah tahu betul dimana singgasana Tuhan-mu,
menjelma dalam kalbu serupa debu
yang terhirup karena tak tahu
Doa itu, takdir mentah itu berhasil dituai
dan siap dipanen oleh para pengiba yang setia menunggu,
mematahkan segala pilu yang dahulu membelenggu
Berbahagialah para pengiba
karena Tuhan-mu memang benar mendengarmu.
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
para pengiba mulai mengadahkan tangan
dalam sujud maupun berlutut,
lantunan doa mulai terdengar
dari bibir yang membiru
dan kecapan lidah yang kelu
Berterbanganlah takdir yang mentah itu
seolah tahu betul dimana singgasana Tuhan-mu,
menjelma dalam kalbu serupa debu
yang terhirup karena tak tahu
Doa itu, takdir mentah itu berhasil dituai
dan siap dipanen oleh para pengiba yang setia menunggu,
mematahkan segala pilu yang dahulu membelenggu
Berbahagialah para pengiba
karena Tuhan-mu memang benar mendengarmu.
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Jumat, 28 September 2012
Dalam Diam Aku Bercerita
Dalam diam, aku mencoba menterjemahkan
ratusan rasa yang tak terungkap kata
tangisan pilu yang tercekat dan terdengar ngilu
suka yan tersimpan pada selip-selipan luka
rindu yang tak mampu kuloloskan dalam laku
atau bahkan cinta yang tak kasat oleh mata
Rupanya, tak selamanya diam adalah mati
dengan diam aku menyulam berbait-bait doa yang kerap kulantunkan kala malam
berlipat-lipat harap yang kusimpan rapat-rapat yang kelak bisa bersama kita ikat
Dengan diam,
aku menghidupkanmu melalui isyarat
yang aku hembuskan serupa deru nafas satu-satu
melalui linang air mata yang berjatuhan dari kawah-kawah mataku
melalui kabar yan kubisikan pada angin lalu disampaikan berupa angan.
Diam tidak berarti mati,
karena dalam diam aku bercerita pada Tuhan tentang aku dan kamu--kita yang tak akan pernah mati.
(Andra Sheilamona / Solo, September 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)