Selasa, 19 Juni 2012

Muasal Segala Penawar Duka Adalah Kalian, Teman.


Pernah diri ini merasakan  sedih.
Pernah diri ini berada di titik terperih.
Pernah pula diri ini merasa tersisih.
Ya, sedih, perih dan tersisih
itu semua wajar.

Aku terus mencari bahagia untuk sembuhkan semua duka.
Aku menjadi munafik dengan memuja kebahagiaan,

Seolah berdalih dari semua kesedihan.
Sampai akhirnya aku terjebak,
dalam gelap gulitanya kehidupan .
Semua cahaya meredup,

Semua jalan tertutup
Tubuhku pun ikut gugup,

Seiring dengan jantungku yang tak henti berdegup.

Disaat itu kalian menarikku,

Dari semua kekosongan.
Dari kelamnya kehidupan.
Dari kawah kesendirian.
Dan dari lautan kesedihan.

Ya, itu adalah kalian, teman.
Kalian teman yang selalu menyambutku
Dengan senyum manis tersungging dibibir
Dengan uluran tangan yang tak segan menggengam
Dengan lengan terbuka yang siap memeluk dan menuntun

Adanya kalian menggenapkanku yang ganjil,
Adanya kalian mewarnaiku yang putih abu-abu
Adanya kalian mengisi semua kekosonganku
Adanya kalian memang ditakdirkan Tuhan untukku.


Tuhan boleh beriku duka, tapi Ia juga berikan orang-orang terbaik disekitarku
mereka adalah teman.

" Tulisan ini aku dedikasikan untuk teman-teman,
khususnya anak-anak XI IPA 4. Maaf karena hanya ini yang bisa ku persembahkan untuk kalian.
Bagaimana aku bisa memberi kalian kado terbaik, jika kalian sendiri adalah hadiah terindah di bumi?
Guys, thanks for being a part of my life. I love You all. -- Andra Sheilamona."


  • Friendship isn't a big thing - it's a million little things.  - Author Unknown
  • A real friend is someone who would feel loss if you jumped on a train, or in front of one.- Unknown
  • The friend is the man who knows all about you, and still likes you.  - Elbert Hubbard 

  • Teman adalah bentuk kebahagian sederhana dari Tuhan yang tak henti kusyukuri. - Andra Sheilamona
  • Teman  adalah kebutuhanmu  menjawab. Dia adalah bidang anda yang kau tabur dengan cinta dan menuai dengan ucapan syukur. Dan dia adalah forummu dan kau api unggun. Bagimu datang padanya dengan rasa laparmu, dan kau mencari Dia untuk perdamaian - Kahlil Gibran


(Andra Sheilamona / Solo, Juni  2012)

Rabu, 13 Juni 2012

Aku Dan Kamu, Adalah Kita Yang Terhalang Oleh Dia


Jangan mencari-cari siapa diantara Kita yang paling banyak berjuang, tapi lihat seberapa besar apa yang telah Kita perjuangkan.
Karena ini bukan tentang mereka, ini tentang Aku, Kamu dan Kita yang semestinya.

  • Aku adalah logika yang dikalahkan ketiadaanmu.
  •  Aku - dulu orang yang paling sering kau cari, sekarang orang yang kerap kali kau hindari
  • Aku - memaksa kan ingatan mengenang dengan berbagai kontroversi tulisanku tentangmu
  • Aku - tangis pilu yang bersembunyi dibalik senyum bahagia.
  • Aku - orang bodoh yang terus merindukan kebodohanmu
  •  Aku payah, dihadapmu aku tak berdaya dan hilang upaya
  • Kamu - tidak ada dijangkauan mata tapi menetap di ulu hati terdalam
  • Kamu - ingatan yang muncul tiba-tiba tanpa alasan
  • Kamu - kenyataan indah yang belum dapat kusanding
  • Kamu - perasaan yang belum tuntas dan kemungkinan akan bertahan
  • Kamu - satu tunggal yang kubiarkan tetap tinggal
  • Selama Itu Kamu Aku merana saat merindu
  • Selama Itu Kamu aku lebih memilih kehilangan pegangan daripada kehilangan kenangan
  • Selama Itu Kamu aku tak pernah mendustai kehilangan, benci dan rindu.
  • Selama Itu Kamu semua rasa akan kupendam dan kusisakan rindu untuk kugenggam

Sabtu, 02 Juni 2012

Temanku - Kahlil Gibran. (For you guys XI IPA 4)


Temanku, aku tidak seperti yang terlihat
Yang terlihat adalah pakaian yang kukenakan
Pakaian dengan tenunan indah yang melindungiku
dari pertanyaan-pertanyaanmu
dan kamu dari pengabaianku
‘Aku’ dalam diriku, temanku, tinggal dalam rumah
kesunyian, dan di dalamnya tidak dapat didekati
Aku tidak akan memintamu percaya pada
kata-kataku atau apa yang kulakukan
Karena kata-kataku adalah pikiranmu sendiri dalam
kata-kata dan perbuatanku adalah
harapanmu yang terwujud
Ketika kau berkata, “Angin berhembus ke timur,”
Aku berkata, “Ya, angin bertiup ke timur,”
Karena aku tidak akan memintamu bahwa
pikiranku tidak berada dalam angin
melainkan di lautan
Kau tidak dapat mengerti pikiran lautku
Aku juga tidak akan memintamu untuk mengerti
Aku akan berada di laut sendirian
Ketika siang bersamamu, kawan, bagiku itu malam
Bahkan ketika aku berbicara tentang
pasang yang menari di atas bukit dan
bayangan ungu yang mencuri jalannya
menyeberang lembah
Karena kau tidak dapat mendengar
nyanyian dari kegelapanku atau
melihat sayap-sayapku mengepak menentang bintang
Dan aku tidak akan memintamu
untuk mendengar atau melihat
Aku akan berada dalam malam sendrian
Ketika kau naik menuju Surgamu
Aku turun ke Nerakaku
Bahkan ketika kau memanggilku
melalui teluk tak berjembatan
“Temanku, kawanku”
Dan aku memanggilmu kembali
“Kawanku, temanku”
Karena aku tidak akan memintamu
untuk melihat Nerakaku
Apinya akan membakar penglihatanmu
Medan asapnya akan merambat ke lubang hidungmu
Dan aku terlalu mencintai Nerakaku
untuk membiarkanmu mengunjunginya
Aku akan berada di nerakaku sendirian
Kau mencintai Kebenaran dan Keindahan dan Ketepatan
Dan aku demi kau berkata bahwa
itu baik untuk mencintai hal-hal itu
Tetapi dalam hatiku aku menertawakan cintamu
Tetapi aku tidak akan memintamu
untuk melihat tawaku
Aku akan tertawa sendirian
Temanku, kau bukan temanku
Tetapi bagaimana aku membuatmu mengerti?
Jalanku bukan jalanmu
Namun kita berjalan bersama
Bergandengan tangan
”

Rabu, 30 Mei 2012

Sepucuk Surat Rindu Untuk Ayah : Surat Pertama


Ayah,
Bagaimana kabarmu yah?  Aku harap kau selalu baik.
Sudah lama kita tidak bertemu, tapi kita urung jua untuk bertukar kabar.
Maafkan aku yah, untuk kelancanganku.
Terlepas dari semua ketegangan kita,
Sebenarnya aku rindu tapi aku malu.
Kerinduanku ini bertumpuk karena tak segera ku sampaikan padamu.
Kau tahu? Ternyata menyimpan rindu itu tidak semudah membalik halaman buku.
Ayah, kita memang tidak dekat dalam jarak maupun hubungan.
Kita memang tidak seharmonis "ayah-anak" pada umumnya.
Kita memang tidak memiliki kenangan semanis kenangan ku bersama Ibu.
Tetapi kenangan tetaplah kenangan,
Akan ada masa dimana aku rindu kenangan itu.
Seperti kemarin, hari ini dan bahkan detik ini.
Aku rindukan sorot matamu yang tajam.
Aku rindu bibirmu yang membentuk garis lurus tanpa makna.
Aku rindu topeng dingin yang selalu kau kenakan.
Ayah, aku yakin dibalik topeng dingin yang kau kenakan itu,
Ada sepasang mata yang memandang dengan sendu.
Ada seutas senyum ikhlas yang tak akan putus bahkan oleh tajamnya luka.
Rinduku padamu mungkin tak sebanding dengan rinduku pada Ibu,
Tapi kekagumanku padamu bisa jadi tak tertanding.
Untuk yang terakhir kalinya,
Maafkan aku Ayah, aku merindukanmu.


Anakmu yang selalu membanggakanmu,
Andra.


"Ayah keharmonisan kita memang tak mulus, tapi doa tulusku padamu tak akan pernah putus"


(Andra Sheilamona / Solo, 2012)

Selasa, 29 Mei 2012

Kisah Ibu tentang Rindu


Kota Malang di pagi hari..
Udara dingin menusuk tulang menciptakan kabut tebal penghalang pandang.
Pagi ini waktuku pulang, kembali ke kehidupan dan aktivitasku di Solo.
Pagi ini aku akan tinggalkan Ibu dan para saudara laki-lakiku.
Pagi ini aku akan mulai lagi petualangan rinduku.
Di tangan kanan sudah kugenggam satu tiket bus yang akan membawaku kembali.
Sedangkan tangan kiriku penuh dengan koper berisi pakain yang sudah di benahi ibu.
Jarum jam menunjukan pukul 7 dan aku siap meninggalkan kota ini dan semua kenangan manis kemarin.
Helaan nafas panjang mengiringi khayalku tentang kebahagiaan kecil yang kami cipta kemarin.
Aku pasti akan rindu gelak tawa Ibu, sendau gurau saudara-saudarku.
Bagaimana bisa kau meninggalkan apa yang sudah membuatmu begitu nyaman?
Bagaimana bisa kau melepaskan genggaman Ibu lalu perlahan menggantinya dengan lambaian?
"Nak.." Suara Ibu membuyarkan semua lamunan indahku..
"Nak, kenapa buru-buru banget? Bus berangkat masih jam 9 kan?"
"Iya bu, Aku nunggu di terminal aja. Aku nggak mau lebih lama sama Ibu, nanti aku jadi sulit pisahnya"
Mendengar  jawabanku Ibu cuma tersenyum. Aku heran dan balik bertanya,
"Kenapa Ibu masih bisa tersenyum semanis itu di detik-detik perpisahan kita? Ibu nggak sedih aku pergi?"
Dengan senyum manis dan sekarang ditambah bulir alir mata beliau menjawab
"Aku terus rindu dan percaya itu pasti akan terbayar, seperti sekarang.  Buktinya kemarin kita sudah buat banyak cerita indah untuk lengkapi bahagia kita nak"
Rasanya aku seperti memenangkan lotre berhadiah ratusan juta mendengar pernyataan Ibu.
"Ah, Jadi ini senjata rahasia Ibu mengatasi rindu sama Ayah?"
"Bukan cuma sama Ayah, tapi juga sama anak perempuan Ibu satu-satunya ini"
Jawab beliau sambil memelukku. Ya, pelukkan terakhir yang akan aku simpan kehangatannya untuk bekal-ku pulang.
"Terima Kasih Ibu, tentang kisah rindu dan rahasia mengatasinya. Sekarang aku akan menahan rindu dalam senyuman, dan  membalaskannya dalam pelukan."
Seiring dengan terlepasnya pelukkan Ibu, aku meninggalkan kota ini.
 Kehidupanku sebelumnya sudah menantiku di Solo.
"Selamat tinggal Ibu, Aku akan rindu masa-masa bahagia bersama seperti hari ini dan hari kemarin.
Ibu tunggu aku kembali membawa kebahagiaan lain yang  kujanjikan padamu"


...Aku menanggalkan senyuman saat rindu, tetapi Ibu terus mengenakan senyuman yang sama walau rindu. Aku pun bertanya mengapa, dan sambil tersenyum ibu menjawab : aku terus rindu dan percaya itu pasti akan terbayar, seperti sekarang
Dan itulah alasanku tetap menyimpan rinduku dalam senyuman....



(Andra Sheilamona / Malang , 2012)

Mataku Menggenang Saat Mengenang.


"Para penyair adalah orang-orang yang tak bahagia, karena setinggi apapun jiwa mereka menjulang, akan tetap terbelenggu dalam airmata yang menggenang."
- Kahlil Gibran


..Sayang, perpisahan kita bukan akhir dari segalanya dan ini juga bukan alasan sebuah awal kehancuran. Jangan, jangan mulai lupakan aku dan semua kenangan kita.
Kenang aku dan simpan kenangan kita maka kau akan tau cara ku mensyukuri kehilangan...


  • Saat mengenang entah mengapa mataku menggenang, seperti tak tenang..
  • -Ada banyak nama yang sulit kuingat setiap saat, namun ada satu yang tak mungkin kulupa -- kamu.
  • -Aku -- memaksa kan ingatan mengenang dengan berbagai kontroversi tulisanku tentangmu.
  • Berbeda dengan kopi yang melarutkan gula tapi tetap tak manis. makin aku menegenangmu tangispun bisa jadi semakin manis.
  • Jangan kubur aku dan kenangan kita terlalu jauh dari hatimu, agar sewaktu-waktu kau bisa berziarah semaumu
  • Tenangku adalah saat aku pulang dan telah menyimpan kenangan kita untuk bekal perjalananku.
  • Bagaiman nasib ingatanku, jika mereka tak mampu memutar ulang rekaman kenangan kita?
  • Ingatanku mulai mahir, mengenang apa yang tak lagi hadir..
  • Selain menandaimu, ingatanku juga menggandakanmu.
  • Ingatanku mengurungmu sebagai satu tunggal yg tetap tinggal. Ingatanmu mengurangiku seolah aku satu yg harus terhilang.
  • Kenang aku saat kau terjaga, dan mimpikan aku saat lelah menyapa mata.
  • Mungkin soal 'melupakan-kita' kau lebih ahli, tapi soal 'mengingat-kita' aku bisa jadi lebih mahir..
  • Aku hanya mengumpulkan anggan, bukan menggumpulkan serpihan kenangan-
  • Izinkan aku menulis bait-bait lagu agar kau bisa mengenangku. Izinkan aku mencipta sajak indah agar kau tak resah
  • Mengenangmu itu prinsip, merindukanmu itu harga mati -
  • Biarkan mereka mengenangmu secara wajar, tapi perkenankan aku mengenangmu dalam ketidakwajaran yang logis.
  • Sebab kenangan akan selalu terasa manis jika kau selingi dengan tangis




...Sayang, Aku tidak gagal untuk melepasmu, aku hanya gagal untuk tidak mengingatmu, ini sederhana. Kau boleh memulai melupakanku jika kau mau, dan kau boleh pergi menjauh. Tapi jangan paksa aku melupakanmu dan bunuh kenangan kita. Sayang, tetaplah berkilau walau untuk kelain hati..


(Andra Sheilamona / Solo, 2012 )

Rabu, 23 Mei 2012

Untuk Hati Yang Diam

Untuk hati yang diam,
Apa kau tau aku sedang apa? 
Aku sadang marah karena kau tidak juga hilang dalam ingatan.

Untuk hati yang diam,
Apa kau tau aku sedang apa? 
Aku sedang sibuk menyusun sendiri puntung kenangan yg dulu kita pungut berdua.

Untuk hati yang diam,
Apa kau tau aku sedang apa? 
Aku sedang mengukir semua indah ataupun buruk kenangan kita dalam ingatan.

Untuk hati yang diam,
Apa kamu tau aku sedang apa? 
Aku sedang lapar, karena kita tak lagi saling menyuapi rindu yg sama-sama kita biarkan beku.

Untuk hati yang diam,
Apa kau tau aku sedang apa? 
Aku sedang membungkus air mata agar kelak saat mengenangmu aku bisa tersenyum tanpa menangis.

Untuk hati yang diam,
Apa kau tau aku sedang apa?
Aku sedang berperang dengan lelah yang selalu menuntut saat aku menunggu dan merindumu.

Untuk hati yang diam,
Mataku terpaku melihatmu, lidahku kelu seolah beku, tubuhku kaku dalam laku.
Semua itu saat kita bertemu..

Kita tak akan pernah tau, karena kita tak saling rindu.
Dan kau tak akan pernah tau, karena hanya aku yang merindu-mu.


(Andra Sheilamona / Solo, 2012)